Ayah

Ayah, bagaimana kabarmu disana? apakah kau telah bertemu ibu dan  hidup bersama untuk kedua kalinya?. Ayah, entah mengapa malam ini aku teringat masa kecilku. Ketika masih berumur 6 tahun, kau selalu membacakan dongeng sebelum tidur dan tentunya dengan ekspresi lucu yang membuat tawaku tak terbendung, selalu sebelum kau menyampaikan pesan moral dari dongeng tersebut aku terlanjur lelap. Setiap hari minggu kau rutin mengajakku ke toko buku dan aku selalu memilih cerita dongeng namun tak pernah kau belikan selalu diganti dengan buku pelajaran sekolah. Diantara 2 kakakku hanya aku, iya hanya aku ayah yang kau bacakan dongeng sebelum tidur.

Dan saat aku duduk di bangku kelas 3 SMP, kau menyuruhku membeli buku pedoman UNAS. Namun, apa yang ku beli? Justru, yang ku beli novel karya Habiburrahman el shirazy ‘Ketika cinta bertasbih (aku masih ingat ketika itu seharga Rp 98.500), ayah, kau memarahiku habis-habisan dan aku hanya diam.Taukah, ayah kurasa itu buah dari saat kecil engkau  selalu memberikan dongeng kepadaku. Aku begitu menyukai seni (seni dalam hal ini karya sastra), menulis menjadi hobi bagiku untuk menyalurkan stress. Ayah, aku rindu ketika kau membacakan dongeng untukku, mengajak ke toko buku.

Ayah, dunia terlalu sempit bagi kita bersama, kata orang kau selalu melindungiku namun mengapa kau tak pernah berbincang denganku? Ayah, engkau pasti telah bertemu dengan Tuhan.Ayah, sampaikan pada Tuhan rasa syukurku yag tiada terkira telah memberiku ayah sehebat kau.

Iklan

3 pemikiran pada “Ayah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s