Secangkir kopi

image

Secangkir kopi masih tersaji di meja makan,pak. Tiada jemari yang menjamah, aromanya terasa begitu pahit mungkin kurang gula atau mungkin tanpa gula. Tutup cangkir sudah mengembun barangkali telah dibuat sejak pagi buta hingga sekarang matahari hendak dimakan bulan tetap tak berubah. Warnanya begitu pekat seperti malam tanpa sinar gemintang, apakah dia jenis kopi torabika? Robusta ? Arabika. Kopi pekat itu didapat dari toko kelontong di seberang jalan, diseduhnya dengan air hangat dengan sepenuh hati berharap orang menyeruputnya dengan sukacita. Namun, hingga kini kopi [tersebut] tak dilirik pengunjung. Aroma kopi tak memikat, pak. Barangkali orang-orang beranggapan kopi terlalu pahit atau rasanya getir atau bahkan hambar. Barangkali juga kopi terlalu lelah dan jenuh menunggu separuh hari untuk membasahi lidah penikmatnya namun tak jua ada yang tertarik. Sekarang, hari sudah malam pak. Kopi [tetap] tak punya pesona untuk diseruput, bahkan gula mengendap didasar cangkir, buih putih sudah menghiasi permukaan kopi, aromanya tak sesedap pagi tadi, sedikit anyir.
Ternyata, ada kepala lain yang juga menyeduh camelia sinensis di sejajar kopi. Mungkin kopi mulai letih menunggu……

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s