Elegi Secangkir Teh Hangat…..

Sudah 2 bulan lebih aku tak mencium aroma kampung lahir. Bau yang selalu sama dari dua setengah windu lalu, bau yang selalu membuatku merindu pada seseorang. Kurasa baunya sedikit berubah tak sama persis seperti dulu. Mekaran kenanga di pekarangan rumah, pohon nangka yang ranum petani yang pagi buta berladang, suara seduhan teh di pagi hari, dan aroma teh hangat di pagi hari yang menyengat membuatku rindu sekaligus benci. Benci, karena aroma itu yang mengingatkanku pada aroma pagi yang gemar kucium 3 tahun yang lalu. Hari ini jeda libur, jika punya sedikit niat bisa saja aku menggunakan jeda libur untuk pulang namun aku mengurung niat itu karena aku lebih suka menikmati jeda disini, ditempat dengan tingkat stress yang tinggi serta tempat menumpuknya segaa kerinduan yang tak akan pernah ada obatnya [kurasa].
Saat menulis ini, entah sudah berapa kali aku menyeruput air putih dan sesekali membenarkan posisi computer. Aku sedikit canggung. Barangkali karena tanganku begitu kaku menari di tuts tuts keyboard, memang aku bukan seorang penulis ataupun penyair. Namun mataku teduh setelah melirik pada toples kecil berisi biscuit marie yang teronggok disamping meja. Ketika kecil aku gemar mencelupkan marie kedalam teh hangat dan duduk diatas meja dapur. Lagi-lagi, tentang teh hangat. Aku benci teh hangat, aku benci aroma yang berhasil memasungku pada kerinduan terhadap seseorang. Kerinduan yang hingga saat ini [kurasa] tak ada obatnya. Jika, aku merindukan kampung lahir bisa saja aku menggegas pulang dan menaiki bus sepagi yang ku mampu. Namun, jika merindu pada seseorang apa yang dapat kulakukan selain meratap. Merindu pada seseorang yang tak bergeming pada hari perpisahan yang sakral itu. Perpisahan yang menyakitkan tapi juga mengharu. Aku menyebutnya perpisahan sepihak.
Toh, jika terdapat jeda sejenak untukmu kembali aku tak akan balas meninggalkanmu. Justru, akan ku seduhkan teh dengan aroma pekat kesukaanmu. Teh hangat kerap membuat roncehan segara mataku menguar entah berapa liter. Begitulah, teh hangat mengingatkanku pada perpisahan. Apapun alasannya, perpisahan selalu menyakitkan untuk dikenang walau kau tak dapat membantah bahwa perpisahan juga lah yang mengajari manusia nilai mati dari sebuah kesabaran dan tentu saja keikhlasan. Perpisahan satu-satunya alasan mengapa aku membenci secangkir teh hangat di pagi hari. Namun, senja ini aku melumat segala kebencian pada aroma teh dengan menyeduh secangkir teh hangat untuk seseorang yang dengan busung meninggalkanku sendiri tanpa sebuah pelukan bahkan kata cinta. Aku merindukannya tanpa kompromi, ku kira rindu selalu datang tanpa kesepakatan antara kami yang terpisah jeda. Memang dimanapun letaknya jeda selalu jadi penyekat. Aku tak kuasa menghempas kerinduan seperti hari sebelumnya, aku [masih] berharap menikmati seduhan teh hangat dengannya. Untuk sekali senja ini biarkan aku menyeduh teh hangat untuknya, kali ini tak akan keliru. Secangkir teh hangat dengan sedikit gula, tak terlalu manis sesuai permintaanmu. Ku tunggu hingga pagi hari, tentu saja ku tunggu di dapur seperti kebiasaan kami dulu. Harusnya dia masih mengingat lekat kebiasaan kami walau dia yang menyepakati perpisahan denganku, tapi aku yakin perpisahan yang terjadi tak semua kehendaknya. Sebelum teh menjadi dingin dan hambar tanpa rasa seperti halnya perpisahan kami. Mari menyeruput teh seduhanku bersama…..Bapak. Kali ini jangan tolak permintaanku, pak. Jika kau turuti permintaanku, akan ku anggap impas caramu menghampiri kadi yang kadung menjadi penyekat kita. Ohh yaa, aku hampir lupa akan ku urut punggung kakimu sebagai tambahan. Bukankah itu kegemaranmu?? Tentunya semua itu tak gratis, pak.
Kau harus membayarnya dengan sebuah pelukan dan aroma tubuh yang lama tak pernah ku cium. Jika rindu adalah sebuah penyakit, maka [seharusnya] pertemuan menjadi obat yang mujarab. Aku merindukan kerutan di wajahmu, pak. Biarkan aku sekali saja mencium kerutan diwajamu sekali saja, menamatkan aroma tubuhmu yang hampir ku lupa baunya. Aku janji, hanya sekali tak akan lebih. Bapak, mari bertemu, ku tunggu esok pagi di dapur dengan secangkir teh hangat dan sejuta cerita. Kuharap, kau tak lupa…..

Teruntuk ; Bapak yang telah damai

16/05/2015
Malang,
Ketika adzan isya’ berkumandang

Iklan

18 pemikiran pada “Elegi Secangkir Teh Hangat…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s