Siang di Musim Kemarau; Tentang Ibu ….

Guten Morgen/ Guten Tag/ Guten Abend (Coret yang tidak perlu)…. Apa kabar sahabat blogger yang budiman ??? Masih single apa udah double ?? Yang masih single saya doakan semoga cepet jadi double, yang udah double semoga cepet jadi triple *ehhhhh.. Sebenarnya pas mau posting tulisan ini saya sedang sibuk mengerjakan laporan akhir. Tapi apalah daya, tidak ada cukup niat untuk mengerjakan laporan. Jadilah saya nulis postingan ini…. Memang, kalo tidak pada kondisi in good mood buat ngerjain laporan dan saya paksakan untuk ngerjain kadang kelakuan saya agak aneh… suka gegoleran dikasur gak jelas, ngemilin makanan yang ada dan yang paling gak banget suka ngelilingin rumah gak jelas (wkwkw… ini bener saya lakukan). Tapi, yowessslah namanya juga manusia yaaa kan?? Kalo ini kan produktif nggak ngerjain laporan tapi ngerjain postingan blog *dilemparlaptop* . Tanpa sengaja saat saya gegoleran di kasur, saya iseng buka sosmed aka facebook, yang lama tak pernah saya jamah. Pas waktu lihat beranda facebook saya menemukan beberapa gambar dengan caption yang pada intinya teman saya ini merindukan ibunya. Dan, saat saya membuka akun sosmed yang lain juga menemukan seorang sahabat yang menyatakan bahwa dia rindu sosok ibunya
Dari situ saya jadi keingetan kelakuan ababil saya yang dulu awal punya blog suka ‘curhat’ di blog tentang rindu sama bapak-ibu yang mana sekarang saya sadar kalo sebenarnya kelakuan saya ………..wkwkwkw (kecuali kalo tulisannya ciamiiik bukan macem tulisan saya yang gajebo). Jangan salah paham dulu, maksud saya adalah tulisan saya yang awut-awutan dan sembarangan jadi esensi dari rasa rindu itu sama sekali tidak muncul. Tentang rindu dengan Ibu, saya jadi terbesit menulis sesuatu. Jangan dibaca kalo tidak berkenan. Kalo berkenan, sok atuh mangga …
“ Siang ini sangat terik bu, Musim kemarau kali ini memang sedikit menggila tapi tetap saja aku menulis ini dengan kepala yang dingin. Bulan ini adalah bulan kepulanganmu, Bu. Aku masih mengingatnya. Suara parau tangisan 11 tahun yang lalu masih segar dirumah ini, pada kenyataannya hidup harus terus berjalan. Semua teman-temanku sering memuja perihal ibu mereka yang penuh rasa cinta. Tahukah Bu, saat seperti itu aku lebih banyak terdiam. Bibirku mengatup, membisu tanpa mampu ku buka. Sebab aku tak tahu apa yang harus kuceritakan tentang engkau. Aku miskin memori tentang engkau, memang kebersamaan kita sangat singkat. Saat teman-temanku sibuk menciumi pipi ibunya yang mulai menua, aku sibuk membersihkan nisanmu. Aku sibuk mengantarkan doa penerang jalanmu disana. Ketika pulang dari pemakaman sepanjang jalan para tetangga selalu bertanya, dan pertanyaannya sungguh lucu Bu “Sudah ketemu?”. Saya hanya menjawab “Sudah” sambil tersenyum. Ketika saat ujian tiba, teman-teman sibuk menerima telfon dari ibunya sembari menanyakan bagaimana ujiannya?Sukses? atau mungkin sudah belajar? ‘Semoga besok ujiannya sukses’ atau Selalu mengingatkan agar tidak telat makan, selalu menjaga kesehatan. Sedang saya ??? Saat ujian , handphone ku tak pernah berdering.Selalu senyap. Tak ada yang menyemangati , tak ada yang selalu mengingatkan untuk menjaga kesehatan. Kalo bukan diri saya sendiri. Tapi tak perlu khawatir Bu, anakmu ini kuat. Hidup banyak mengajakku bercanda Bu. Hidup pula yang mahir mengajari ku bertahan tanpa perlu menyakiti, aku bukan lagi anak kemarin Bu. Yang suka merengek minta gulali di pasar malam, bukan lagi anak manja yang selalu harus disisirkan rambutnya. Ibu, Aku banyak berubah. Terkadang imajinasi liarku bergerak di kepala. Tentang bagaimana rasanya memeluk tubuh Ibu, Ahhh… betapa bodohnya aku, tentu saja rasanya sangat hangat dan menyenangkan. Menciumi pipi yang mungkin sekarang sudah mulai tampak keriput. Menceritakan tentang banyak hal. Tahukah kau, Bu??? Rumah masa kecil tak pernah menghilangkan kenangannya, semua masih sama bu, tiada yang berubah. Hanya beberapa gelak tawa banyak yang pudar, dan juga suara cerewet seperti engkau tiada lagi. Disini senyap.Syahdu tapi sendu. Aku menelan banyak rindu Bu, lebih banyak rasa perih yang mungkin tak ada obatnya. Tenang di surga Bu. Mari kita pelihara rindu ini yang suatu saat nanti akan kita petik. Jika rindu adalah sebuah penyakit, maka semoga ada penawarnya sebab rindu tak pernah kompromi dalam meracuni urat syaraf. Sangat tercekat namun nikmat, menjadikannya candu…

29 Oktober 2015
Bojonegoro
Siang hari, selepas adzan dhuhur

Iklan

9 pemikiran pada “Siang di Musim Kemarau; Tentang Ibu ….

  1. Wah.. air mata saya kok menetes membaca tulisan ini. Saya hormat akan ketabahan Mbak. Saya mengerti bagaimana rasanya ketika Ibu kita pergi lebih cepat meninggalkan kita saat teman-teman kita masih bisa melihat keriput di wajah ibunya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s