Upsus PaJaLe

Pagi/siang/sore/malam sahabat blogger…. di postingan ini aku mau cerita dikit tentang pengalaman magang kerja (biasanya disebutnya PKL) aku ikutan program pemerintah gitu. Penasaran kan?? Penasaran ngga sih? Iyaa kan?? Penasaran dongg yaa biar lanjut ceritanyaa. *maksaaa*…Nama programnya UPSUS PAJALE (Upaya
Khusus Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai) yang melibatkan perguruan tinggi, disperta, babinsa, penyuluh pertanian dan kementan. Singkatnya, Kementan berupaya meningkatkan produktifitas ketiga komoditas pangan tersebut biar stop impor gitu deh. Negara kita agraris masak iya kudu impor beras terus *diketok palu*.
Kebetulan penempatannya di Bojonegoro, yipppiiii…. sekalian pulang kampung (hahahahaaaa maunyaa). Nah kerjaanku ngapain ?? Jadi pendamping petani, namanya juga pendamping jadinya yaa wajib mendampingi petani (naaah, aku kapan didampingi? Upss, bukan sesi curhat). Tiap hari wira-wiri ke petani satu ke petani yang lain. Sampek ada petani bilang gini “yaaah, mbak kalo anak KKN biasanya bantu orang, lah kalo pendamping malah nguber orang”. Hahaha, yaiyaaalaaah kita kan ditugasin sama negara kagak mau dong di cap makan gaji buta. Udah gitu, menyangkut uang negara salah dikit noh jaminannya borgol (di daerah aku udah ada korban soalnya prosedur pelaksanaan pembangunan RJIT nggak sesuai dengan prosedur) nggak mau dong yaa kayak gitu. Makanyee, jangan macem-macem ama uang negara….
Naaah, tim upsus pajale bojonegoro ini kompaak abesss. Di daerah sini kekeringan banget sampek harus beli air PDAM buat nyiram tanaman kedelai disawah ngangkut pake gembor. Hahaaaa… diliatin orang gitu… anti mainstream banget kagak sih di sawah nyiram air pake PDAM (sayangnya, fotonya nggak bisa di share).
Ehh, tapi sering dapat makan gratis juga sik dari petani *naluri anak kos nya tetap ada* awalnya malu-malu juga pas mau makan tapi akhirnya sikat juga.
Pernah pas rapat sama dosen supervisi itu di hotel kn yaa, dosennya belum dateng sama waitress disuruh pesen dulu. Kompakan semua pendamping fixx cuma pesen minum dong (hahaaaa, soalnya belom gajian bokek abis). Terus pas dosen dateng disuruh pesen lagi kan ya anak-anak pada gak mau. Pak dosen mesenin pizza akhirnya, naluri anak muda kan ya kalo tau gratisan pegimana, urutan terdepan dong hahaaaa. Laaah, ternyata semua dibayarin pak dosen (yaelaaaah, tau gitu pesennya tadi ditambahin cumi asam pedas, gurami bakar, kepiting saos tiram kagak minum doang *dilempar bakiak*)
Tapi yang paling nggak enak kalo harus pengamatan demplot siang hari panas banget kan yaa tengah hari di sawah, bojonegoro kota terpanas di jatim ditambah ada pengeboran sumber minyak pula *aku rapopo, bang*. Kata temen temen tambah gosong eksotis banget nih kulit, sun block kagak mempan kalo udah gini. Ini nih foto-foto kerjaan jdi pendamping banyak suka daripada duka, apalagi kalo pas gajian sukkakkkk bangeet.

image

             Hayoo tebak aku yang mana

image

image

image

image

image

Buat temen-temen kalo makan jangan suka buang nasi yaa, beneran deh petani perjuangan banget buat menghasilkan sebulir padi itu. Yukkkss, sukseskan program pemerintah UPSUS PAJALE.. Stop impor beras, jagung dan kedelai. Harus swasembada donggg. Jangan anggap remeh pertanian, tanpa tani tanpa makan (Bumi dipijak tani dijunjung). Tani joyoooo!!!
Ceritanyaaa masih bersambung yak…. wkwkwkwwk

Tuan Penyuka Senja….

Sayang (upss, maaf ku kira kita tak pernah sepakat saling mencinta)
Teruntuk; Tuan, penyuka senja…
Kau tahu akhir akhir ini aku jadi semakin menggemari senja, langitnya yang jingga, kepak burung yang pulang ke sarangnya, dan beberapa butir debu kemarau. Karenamu, aku yang apatis menjadi lebih tekun menanti senja.
Kau tahu, karenamu aku jadi penikmat puisi karya sapardi djoko damono, aku menggilai puisi. Ku kira sejak aku terkagum kepadamu, Tuan penyuka senja.
Kepalaku bekerja lebih giat, tanganku rajin mengisahkan langit jingga kegemaranmu.
Tuan penyuka senja…
Di kota ini ku benamkan senja yang pudar ditengah mayapada. Ku tinggalkan segala rentetan senja yang selama ini kurindu, ditempat pertama kali kita bertemu. Bahkan aku tak ingat lagi dimana tepatnya kita bertemu. Yang ku ingat saat itu kau sering membicarakan senja, kau menjadikan senja sebagai tempat paling aman berbagi rahasia. Aku tak ingin menjadi penikmat senja sepertimu. Senja sangat menyakitkan bagiku. Setidaknya itu yang kurasa sekarang.
Teruslah jadi penikmat senja, sementara aku akan menjadi penikmat fajar. kau tahu,  mengapa fajar lebih istimewa dibanding senja? Sebab fajar memiliki embun, dan embun selalu membuatku teduh. Ahhhh…. Ku rasa, itu bukan alasan.  Sudahlah, yang perlu kau sadari aku sekarang menggilai fajar.Sebab aku tahu, senja dan fajar tak pernah bersama, Tuhan menciptakan mereka berbeda dan tak akan pernah beriringan. Kau pasti tahu jika senja dan fajar beriringan apa jadinya? Biar ku jawab, kehidupan akan berakhir…

(Untuk Adik manis yang sedang dipermainkan cinta 🙂 )

Dibuangg shayangggg….

Kekasih, malam semakin larut wajahmu menari liar dikepala. Rembulan bersinar angkuh di temaram lampu kota. Jangan banyak menggerutu perihal gelap yang datang lebih awal. Nikmati saja, barangkali secangkir kopi pekat dapat mengobati dahaga mu malam ini.

Malam selalu punya cara terbaik untuk mencintai senja. Langit jingga yang selalu tampak anggun. Apakah kita sepakat menamainya senja? Terlalu naif rasanya membeda antara senja, sore dan petang. Ketiganya sama sama memiliki langit jingga. Sama halnya dengan kita yang selalu merindu jingga.

Kekasih, ribuan lembar mantra cinta telah kita titipkan pada sajak-sajak bisu. Menulis setiap jengkal harapan menjadi sebait prosa. Kita belajar mencintai puisi entah sejak kapan. Yang kita tahu hujan bulan juni tak lagi tabah. Ada banyak gelak tawa yang pudar di bulan juni. Tentunya kita memaksa untuk melengkungkan senyum. Tidak mudahkan ?? Memang. Kumohon jangan menggerutu lagi, aku tak gemar menamati wajahmu yang nanar. Jangan banyak berbisik pada tanah yang basah, akan banyak yang menginjak. Tentunya kau tak suka bisikanmu diinjak orang, bukan?.

Jangan banyak menuliskan kalimat rindu untukku sebab itu akan menyakitkan bagimu. Jangan gemar mencari bayanganku di pucuk kegelapan akan sangat percuma bagimu. Berbaringlah,selagi malam datang lebih awal. Aku akan menyelimutimu dengan hangat, menyanyikan puluhan lagu surga. Melingkarkan jemari dipergelangan tanganmu. Sebelum kau terbangun pada pejaman matamu aku akan lebih dahulu pergi menjemput fajar. Maafkan aku yang tak pandai mencintaimu dengan benar….

Elegi Secangkir Teh Hangat…..

Sudah 2 bulan lebih aku tak mencium aroma kampung lahir. Bau yang selalu sama dari dua setengah windu lalu, bau yang selalu membuatku merindu pada seseorang. Kurasa baunya sedikit berubah tak sama persis seperti dulu. Mekaran kenanga di pekarangan rumah, pohon nangka yang ranum petani yang pagi buta berladang, suara seduhan teh di pagi hari, dan aroma teh hangat di pagi hari yang menyengat membuatku rindu sekaligus benci. Benci, karena aroma itu yang mengingatkanku pada aroma pagi yang gemar kucium 3 tahun yang lalu. Hari ini jeda libur, jika punya sedikit niat bisa saja aku menggunakan jeda libur untuk pulang namun aku mengurung niat itu karena aku lebih suka menikmati jeda disini, ditempat dengan tingkat stress yang tinggi serta tempat menumpuknya segaa kerinduan yang tak akan pernah ada obatnya [kurasa].
Saat menulis ini, entah sudah berapa kali aku menyeruput air putih dan sesekali membenarkan posisi computer. Aku sedikit canggung. Barangkali karena tanganku begitu kaku menari di tuts tuts keyboard, memang aku bukan seorang penulis ataupun penyair. Namun mataku teduh setelah melirik pada toples kecil berisi biscuit marie yang teronggok disamping meja. Ketika kecil aku gemar mencelupkan marie kedalam teh hangat dan duduk diatas meja dapur. Lagi-lagi, tentang teh hangat. Aku benci teh hangat, aku benci aroma yang berhasil memasungku pada kerinduan terhadap seseorang. Kerinduan yang hingga saat ini [kurasa] tak ada obatnya. Jika, aku merindukan kampung lahir bisa saja aku menggegas pulang dan menaiki bus sepagi yang ku mampu. Namun, jika merindu pada seseorang apa yang dapat kulakukan selain meratap. Merindu pada seseorang yang tak bergeming pada hari perpisahan yang sakral itu. Perpisahan yang menyakitkan tapi juga mengharu. Aku menyebutnya perpisahan sepihak.
Toh, jika terdapat jeda sejenak untukmu kembali aku tak akan balas meninggalkanmu. Justru, akan ku seduhkan teh dengan aroma pekat kesukaanmu. Teh hangat kerap membuat roncehan segara mataku menguar entah berapa liter. Begitulah, teh hangat mengingatkanku pada perpisahan. Apapun alasannya, perpisahan selalu menyakitkan untuk dikenang walau kau tak dapat membantah bahwa perpisahan juga lah yang mengajari manusia nilai mati dari sebuah kesabaran dan tentu saja keikhlasan. Perpisahan satu-satunya alasan mengapa aku membenci secangkir teh hangat di pagi hari. Namun, senja ini aku melumat segala kebencian pada aroma teh dengan menyeduh secangkir teh hangat untuk seseorang yang dengan busung meninggalkanku sendiri tanpa sebuah pelukan bahkan kata cinta. Aku merindukannya tanpa kompromi, ku kira rindu selalu datang tanpa kesepakatan antara kami yang terpisah jeda. Memang dimanapun letaknya jeda selalu jadi penyekat. Aku tak kuasa menghempas kerinduan seperti hari sebelumnya, aku [masih] berharap menikmati seduhan teh hangat dengannya. Untuk sekali senja ini biarkan aku menyeduh teh hangat untuknya, kali ini tak akan keliru. Secangkir teh hangat dengan sedikit gula, tak terlalu manis sesuai permintaanmu. Ku tunggu hingga pagi hari, tentu saja ku tunggu di dapur seperti kebiasaan kami dulu. Harusnya dia masih mengingat lekat kebiasaan kami walau dia yang menyepakati perpisahan denganku, tapi aku yakin perpisahan yang terjadi tak semua kehendaknya. Sebelum teh menjadi dingin dan hambar tanpa rasa seperti halnya perpisahan kami. Mari menyeruput teh seduhanku bersama…..Bapak. Kali ini jangan tolak permintaanku, pak. Jika kau turuti permintaanku, akan ku anggap impas caramu menghampiri kadi yang kadung menjadi penyekat kita. Ohh yaa, aku hampir lupa akan ku urut punggung kakimu sebagai tambahan. Bukankah itu kegemaranmu?? Tentunya semua itu tak gratis, pak.
Kau harus membayarnya dengan sebuah pelukan dan aroma tubuh yang lama tak pernah ku cium. Jika rindu adalah sebuah penyakit, maka [seharusnya] pertemuan menjadi obat yang mujarab. Aku merindukan kerutan di wajahmu, pak. Biarkan aku sekali saja mencium kerutan diwajamu sekali saja, menamatkan aroma tubuhmu yang hampir ku lupa baunya. Aku janji, hanya sekali tak akan lebih. Bapak, mari bertemu, ku tunggu esok pagi di dapur dengan secangkir teh hangat dan sejuta cerita. Kuharap, kau tak lupa…..

Teruntuk ; Bapak yang telah damai

16/05/2015
Malang,
Ketika adzan isya’ berkumandang

Bersama DREAM mempertebal keimanan islami

DREAM : “Jika kau tak punya cukup uang untuk kaya, maka kau harus cukup kaya untuk bermimpi [dengan membaca]”
Assalamualaikum, teman blogger sekalian. Di jaman yang serba modern sekarang, yang hampir seluruh orang sudah melek internet dapat mengakses berbagai macam situs dengan mudah . Berita tidak lagi di dapat dari radio, Koran ataupun televisi namun dapat diakses secara bebas dari situs online. Mengapa situs online?? Iya, karena website memiliki banyak kelebihan seperti: bisa diakses kapan saja dan dimana saja, dapat diakses melalui smartphone, up to date, dll. Naahh, aku mau cerita sedikit tentang situs online yang sekarang lagi hits dan kekinian yaitu http://www.dream.co.id/ . Bagi yang belum mengenal situs DREAM, yuk kenalan dulu kan tak kenal maka tak sayang. Situs DREAM ini website yang isinya memuat banyak berita islami yang Insya ALLAH bermanfaat diantaranya : berita up to date, berita islami yang berkah, resensi novel dan tutorial hijab. Usia DREAM baru setahun tapi udah banyak banget kebaikan yang ditebar : tutorial hijab yang variatif, resensi novel yang sarat nasehat, berita up to date, dll. Selain itu, tampilan website ini juga kece badai poolll, colour full dan bawaannya suka gitu ngeliatnya. Walau usianya baru setahun tapi website ini udah berguna banget bagi pembaca, dan bisa dijadikan salah satu referensi untuk memperdalam ilmu islami kita dan memperkaya pengetahuan berita biar gak cupu. Hari gini ketinggalan berita?? OHH NOOO!!!. Semoga kedepan DREAM lebih banyak menebar kebaikan melalui berita dan isi dari website yang penuh manfaat.
“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka pahala amalnya terputus, kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.”(Hadits shahih, riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, an-Nasa-i, al-Baihaqi)
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad : 7)
Yuukkss, mempertebal keimanan islami kita bersama DREAM 

Pitik Kampus…

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh… Bismillah. Lama nggak posting yaa tapi sebenarnya saya selalu blogwalking dan membaca setiap postingan yang di post oleh teman-teman blogger sekalian but karena ketidakberdayaan koneksi internet maka tak mampu meninggalkan komentar. Maaf yaa.Harap maklum. Semua itu dikarenakan keterbatasan jaringan internet dikosan (iyaaa, dulu kosan didukung dengan jaringan wifi tapi sekarang udah pindah kosan). Tapi ngomong-ngomong saya mau nge post tentang apa ya disini?? Cinta?? Mateek, punya pasangan aja belum mau sok-sok’an bicara cinta. Kehidupan pribadi ?? Busyeettt, kayak tokoh penting aja ngomong kehidupan pribadi. Terus mau cerita apa?? APAAA??!! Tapi, sesungguhnya ada banyak ide yang menari liar di kepala ingin sesegera mungkin dituangkan dalam bentuk tulisan sampai bingung mau nge post ide yang mana (sok banget!). Okeeee, Fix aku mau cerita sedikit tentang kehidupan kampus yang agak sedikit sensitive untuk dikulik tapi ini based on true story. Apaa itu?? Apa yaa?? Penasaran??……Let’s check out guys….
Kehidupan kampus terutama di universitas kota terkemuka, misalnya : Surabaya, Jakarta, Bandung, Jogja, Malang,dll penuh dengan nuansa hedonisme. Ada beragam karakteristik mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia semua tumpah ruah di kampus tempatnya menuntut ilmu, dari mulai yang paling kaya banget sampai yang kurang mampu semua campur aduk. Naahh, kalo kampusnya di kota kecil sih kagak apa, lhaa kalo di kota besar ini yang masalah, masalah bagi sebagian mahasiswa yang kurang mampu (saya gunakan kata SEBAGIAN artinya tidak semua) untuk mengikuti gaya hidup teman-temannya yang mendewakan kehidupan hedonis. Saya dapat cerita dari salah seorang dosen saat mengikuti perkuliahan dan cerita ini benar-benar riil terjadi. Ketika saya mendapat project akhir untuk membuat sebuah film documenter, dosen bercerita tentang film documenter yang dibuat oleh sebuah kelompok dari fakultas teknik tentang “ayam kampus”. Yuppzz… saya mau berbicara tentang “ayam kampus” yang mungkin dulu dijalani karena desakan ekonomi dari (maaf) mahasiswa yang kurang mampu agar dapat bertahan menuntut ilmu, namun mirisnya sekarang “ayam kampus” justru dijadikan sebagai lifestyle alias gaya hidup. Yang ingin saya ceritakan disini murni hanya ingin sharing dan bukan bermaksud apa-apa, kurang lebih begini isi film documenter tersebut, Sebelumnya, film ini riil terjadi di kota tempat saya menempuh pendidikan strata satu dan narasumber dari film documenter ini memang paham benar dengan kehidupan ayam kampus dan kehidupan malam di kota ini.
Pada sekitar tahun 2008, terdapat sebuah perguruan tinggi swasta yang terkenal dengan mahasiswinya menekuni profesi “ayam kampus”, PTS (Perguruan Tinggi Swasta) tersebut terletak di daerah belimbing M**ANG. Tapi, sekarang justru PTN (di kota saya menuntut ilmu) yang mayoritas mahasiswinya menekuni profesi tersebut yang lebih miris lagi mahasiswi tersebut dibekali orang tuanya dengan kendaraan roda 4 honda jazz R tentu saja mereka menekuni kegiatan tersebut bukan karena desakan ekonomi namun lebih kepada ‘gaya hidup’. Yaaa…. Semua berdasarkan pada gaya hidup bukan semata-mata karena uang. Dobel miris lagi, para mahasiswi ‘ayam kampus’ mereka melakukan hal itu bukan berorientasi pada uang, mereka mau dibayar berapapun atau bahkan tidak dibayar asal ‘melakukannya’ dengan lelaki yang terkenal dan menjadi incaran di ‘golongan’ mereka. Naahh, sekarang mari kita bandingkan dengan mereka yang (perempuan berusia sekitar 40 tahunan) yang ‘menjajakan dirinya’ di daerah sekitar stasiun kota baru, mereka yang berangkat dari ekonomi lemah dan semua dijalani karena keterpaksaan sebab tak memiliki cukup skill untuk meningkatkan taraf hidupnya. Mereka memasang “tarif” Rp 35.000 untuk setiap 2 jam, namun tarif tersebut dapat turun seiring malam yang semakin larut bahkan jika sudah lewat tengah malam, para perempuan tersebut bersedia hanya dibayar dengan Rp.15000. Saat di tanyai perempuan yang menjajakan diri hanya bilang “mboten nopo-nopo namung Rp 15000 sing penting enten arto kangge tumbas beras mbenjeng” (Nggak apa-apa, hanya Rp 15000 yang penting ada uang buat beli beras besok). Hanya untuk memenuhi kebutuhan perutnya mereka secara terpaksa ‘menjual’ diri agar dapat bertahan hidup.
Melihat 2 cerita diatas, secara teknis memang sama intinya ‘menjual’ diri namun perbedaannya yang satu dilakukan dengan sukarela dan lainnya dilakukan karena desakan ekonomi keterpaksaan. Terkadang mereka yang hidup secara ekonomi lebih dari cukup selalu kurang menerima dan kurang bersyukur. Mereka tidak pernah melihat kebawah kepada orang-orang yang untuk makan saja masih kesulitan. Menurut saya, para mahasiswi ‘ayam kampus’ ini yang menjadikan kehidupan hedonis sebagai lifestyle tak pernah bersyukur. Mereka tak perlu pusing memikirkan uang untuk makan besok sebab setiap bulan transferan mengalir lancar, untuk mobilisasi mereka tak perlu harus berkeringat naik angkot segala fasilitas dari orang tua sudah tersedia tak mungkin kepanasan dan kehujanan apalagi berdesakan dikendaraan umum sebab mobil pribadi telah tersedia. Lalu, apalagi yang kurang?? Mereka hanya perlu duduk manis dikelas mendengarkan ceramah dosen.selesai. Sedangkan, bagi ekonomi lemah profesi’menjual diri’ memang pilihan terakhir yang dilakukan sebab mereka tak punya cukup keahlian untuk bersaing di era global seperti sekarang hanya sebatas untuk mengisi perut sebagian masyarakat kaum lemah rela melakukan pekerjaan tersebut. Ini menjadi pembelajaran bagi kita semua, bahwa kita harus senantiasa bersyukur dengan keadaan yang kita jalani sekarang. Boleh jadi kalian berpikir Tuhan tak adil menempatkan kita di posisi sekarang namun Tuhan selalu tahu proporsi yang terbaik bagi hamba-Nya. Lingkungan mempengaruhi kepribadianmu, jika kalian perantau dari desa dan datang ke kota besar untuk menuntut ilmu alangkah lebih baiknya kalian memilih teman yang baik bukan didasarkan pada kepopuleran, namun yang mengerti betul tentang agama, mempunyai bekal keimanan yang baik maka kalian tidak akan terjebak pada kehidupan hedonism. Emoga certa diatas dapat membuat kita semakin sadar dan terus bertawakkal kepada Tuhan. Mari sama-sama memperbaiki diri menjadi lebih baik 

Kebencian Dikantong Matamu….

Ada banyak tanya yang merajah isi kepala, tentang kebencian yang tak mendasar, keirian yang membabi buta dan segala keliru. Kita hanya manusia awam yang kerap munafik oleh nyata, dan jelaskan padaku kawan jika perasaan tiba hanya pada suatu yang ganjil sedang kalian terlalu sibuk mengais cela yang acap engkau kambinghitamkan dalam tanya. Aku tak mengerti sungguh tak paham kedengkian macam apa yang kalian semai pada segumpal hati, lantas kalian sulut menjadi suatu berjuluk kebencian. Entahlah. Barangkali aku, kita bahkan mereka hanya serupa buih di secangkir kopimu, kadang berarti kadang tiada artinya. Dan tak seharusnya kawan, engkau membiarkan kebencian memeluk keyakinanmu erat, akan ada hujan di kantong matamu, akan ada mendung di langit-langit wajahmu. Sedang aku? Aku hanya bisa melamatkan pandangan di sisa rindu malam tadi. Hapuslah kebencian semampu yang engkau bisa, hapuslah dengan gerimis bulan februari, hapuslah dengan selaksa rindu yang tulus. Agar engkau tak hidup dalam kepekatan yang menyakitkan agar kita dapat tersenyum melihat februari yang basah.

Setangkup damai itu selalu bersedia mengetuk pintumu ramah,ia tak akan beranjak sebelum fajar. Marilah kawan, meniadakan apa yang seharusnya tiada supaya tiada kebencian [lagi] yang membisukan senyummu. Barangkali kita kan merasa peluh, namun tak apa semua tak akan terasa ganjil, aku akan mengayuh jemarimu, menyelami kantong matamu yang kesekian kali, melumat kepahitanmu sekali lagi. Agar kita dapat hidup tanpa kebencian, agar kita tak menjalangi hidup…..

Tertanda,
Kawanmu yang tak mengerti caranya hidup♥

Bojonegoro,
Pagi hari, ketika langit mendung.